Film “The Mirror Never Lies” yang mengangkat kisah
Suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, meraih penghargaan Honorable Mention
dari Global Film Initiative.
Film yang
dibintangi anak suku Bajo itu dirilis perdana di Studio XXI FX Plaza, Jakarta,
Selasa (26/4), antara lain dihadiri Nadine Chandrawinata dan Garin Nugroho
selaku produser, Kamila Andini sang sutradara, dan para pemain.
Penghargaan
Honorable Mention diperoleh pada 14 April 2011 berdasarkan kriteria penyajian
artistik, alur cerita, dan perspektif budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Film
tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Wakatobi, World
Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, dan SET Film Workshop.
“Ide film
ini terinspirasi dari keadaan laut kita dan saya juga sebagai salah satu
pencinta laut ingin mengangkat tentang kebudayaan Suku Bajo,” kata sang
sutradara, Kamila Andini.
Menurut
Kamila Andini yang akrab disapa Dini itu, film “The Mirror Never Lies”
merupakan film layar lebar pertama yang disutradarainya. Sebelumnya ia sudah
menghasilkan berbagai karya berupa video klip dan FTV.
Film yang
dibintangi Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian, dan tiga anak suku Bajo Wakatobi,
Gita Novalista, Eko, serta Zainal membutuhkan waktu lebih dua tahun untuk
penyelesaiannya.
“Butuh lebih
dua tahun proses pembuatannya karena banyak keputusan yang diambil dan harus
melakukan riset, sedangkan dokumentasi tentang Suku Bajo sangat sulit didapat.
Selain itu proses syuting juga terkendala cuaca,” katanya.
Ia
mengemukakan, film tersebut bukan film dokumenter namun merupakan film keluarga
yang mengangkat kearifan lokal Suku Bajo melalui kehidupan sehari-hari dan
budayanya.
Film
tersebut rencananya tayang perdana di berbagai bioskop di lima kota termasuk
nonton bersama masyarakat di Wakatobi.
Selain itu,
sudah ada beberapa negara yang memesan untuk penayangan film itu di antaranya
Australia, India, Hongkong, dan Malaysia.
Direktur
Marketing dan Komunikasi WWF-Indonesia, Devy Suradji, mengharapkan, melalui
“The Mirror Never Lies” semakin banyak pihak memberi perhatian lebih untuk
menjaga kekayaan hayati di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia itu.
“Ini
merupkan film WWF pertama yang bukan dokumenter, alasan mengangkat Suku Bajo di
Wakatobi karena mereka yang paling siap meskipun sebenarnya WWF ingin mengangkat
semua kebudayaan dan kekayaan hayati di daerah lainnya,” kata Devy.(*)
(T.D016/M029)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar