Suku Bajo dan Nasionalisme Etnik di Indonesia
Manusia diciptakan bukan
sebagai makhluk laut seperti ikan yang dilengkapi alat pernafasan berupa
insang. Akan tetapi laut dapat menjadi pilihan medium utama kehidupan manusia,
seperti sudah dibuktikan oleh Suku Bajo — komunitas warga di Indonesia yang
awalnya lebih banyak memilih laut sebagai tempat melakukan aktivitas kehidupan
mereka.
Spanduk penyambutan Festival Seni Suku Bajo
Internasional 2012 di Kota Makassar/Ft: Mahaji Noesa
Dalam berbagai catatan peneliti diketahui,
Orang Bajo telah menempati hampir semua pesisir pantai di Indonesia sejak
ratusan tahun silam. Bahkan menurut Prof.DR.Edward L. Poelinggomang, Orang Bajo
sejak berabad lalu sudah ditemukan di pesisir pantai pulau-pulau yang ada di
Laut Cina Selatan.
Meskipun dalam paparan dosen jurusan Ilmu
Sejarah di Fakultas Sastra Univesristas Hasanudddin tentang ‘Orang Bajo dan
Persebarannya di Nusantara’ dalam Dialog Budaya di Festival Seni Suku
Bajo Internasional, Minggu (20 Mei 2011) di GedungMulo Mini Hall Kantor
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, juga masih cenderung
mengikuti hasil penelitian bahwa asal-usul Orang Bajo berasal dari Johor,
Malaysia.
Mereka awalnya disebut-sebut adalah
komunitas warga kerajaan mendapat tugas mencari seorang putri raja yang
menghilang ke arah lautan. Dengan menggunakan perahu, warga kebanyakan tersebut
lalu menyusur laut melakukan pencarian, termasuk ke wilayah perairan di
Nusantara. Namun karena tak menemukan Putri Raja yang dimaksud, mereka enggan
kembali ke Johor dan memutuskan untuk hidup mengembara menggunakan perahu di
pesisir pantai.
Akan tetapi dalam sejumlah penelitian yang
dilakukan kemudian terhadap komunitas Suku Bajo yang ada di pesisir pantai
Indonesia, diketahui mereka umumnya memiliki bahasa yang sama yaitu Bahasa Bajo
yang digunakan sebagai bahasa percakapan dalam keluarga sehari-hari. Bahasa
yang digunakan pun saling dipahami antarkomunitas Bajo yang ada di pesisir
pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan
pesisir Papua.
Bahasa Orang Bajo yang ada di Indonesia
tersebut tidak terdapat kemiripan dengan bahasa-bahasa yang ada di Johor, yang
disebut-sebut sebagai tempat asal wilayah eksodus mereka. Bahkan, menurut
Mannan, Presiden Komunitas Bajo Nasional yang juga adalah Kepala Bappeda
Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara saat mengikuti Festival Suku Bajo di
Makassar, sejumlah kata yang digunakan oleh Orang Bajo di Indonesia banyak yang
memiliki persamaan dengan bahasa Tagalog dari Filipina. Bahkan
dari peneliti lainnya juga mendapatkkan sejumlah kata-kata dalam Bahasa Bajo di
Indonesia memiliki persamaan kata dalam bahasa Vietnam.
Namun melalui pendekatan semantik
(kabahasaan) seperti itu, juga sebenarnya masih sangat lemah untuk dijadikan
bahan penguat asal-usul orang laut Indonesia tersebut. Boleh jadi persamaan
sejumlah kata-kata Orang Bajo di Indonesia dengan kata-kata dalam bahasa
Filipina dan Vietnam hanya bagian dari kata-kata serapan sepanjang ratusan
tahun koloni orang laut ini mengembara di perairan Nusantara dan kawasan
sekitarnya.
Hal itu dapat diperkuat dengan sejumlah
kata-kata lainnya dalam bahasa Orang Bajo Indonesia yang juga mirip dengan
kata-kata khas yang digunakan oleh sejumlah suku bangsa di Indonesia. Seperti
untuk penyebutan buah Mangga, Orang Bajo menyebutTaipa sama dengan
bahasa etnik Makassar di Sulawesi Selatan. Demikian pula dengan penyebutan
angka tiga (Bhs Bajo: telu) dan empat (Bhs Bajo: papat),
Anjing (Bhs. Bajo: Asu) mirip dengan sebutan etnik di Pulau Jawa.
Dan, banyak kata Bahasa Indonesia yang sama persis dengan Bahasa Bajo, seperti
Hangat (Bhs.Bajo: Panas), Kiri (Bhs.Bajo: Kidal), Langit (Bhs.Bajo: Langit),
Api (Bhs.Bajo: Api), Gigi (Bhs.Bajo: Gigi), Berat (Bhs.Bajo: Berat), Batu
(Bhs.Bajo: Batu), Bulan (Bhs.Bajo: Bulan), Tertawa (Bhs. Bajo: Ngakak), dan
lain-lain.
‘’….laut nafasku/laut hidupku/laut
cintaku/akulah suku bajo/sukma laut/sajadahku laut biru…’’ kata
H.Udhin Palisuri ketika bertindak sebagai moderator, membuka Dialog Budaya
tersebut dengan ‘Puisi Suku Bajo.
Hampir pasti, bahwa Orang Bajo yang
tersebar di Indonesia memiliki bahasa tersendiri yang tidak mirip dengan bahasa
etnik manapun di dunia. Jika bahasa juga menjadi ciri suatu etnik, maka cukup
kuat alasan jika Suku Bajo disebut sebagai salah satu etnik di Indonesia.
Mereka adalah etnit laut yang tak memiliki wilayah teritorial etnik seperti
etnik lainnya di Indonesia.
Justru penyelenggaraan Festival Seni Suku
Bajo Internasional 2012 di Makassar, seperti diungkap Gubernur Sulawesi Selatan
DR.H.Syahrul Yasin Limpo, SH,MSi,MH saat membuka resmi festival tersebut,
sebagai gagasan yang brilian dalam rangka menguatkan persatuan dan kesatuan
bangsa melalui pengenalan beragam seni dan budaya etnik di Nusantara.
Dia berulangkali memuji H.Ajiep
Padindang,SE,MM, salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sebagai
pengagas awal Festival Suku Bajo, yang sekaligus sejak beberapa tahun
belakangan menjadi pemerhati etnik Bajo khususnya yang menempati salah satu
wilayah pesisir di BajoE, Sulawesi Selatan sejak masa silam. Kegiatan Festival
Suku Bajo ini merupakan kegiatan yang ketiga kalinya dilaksanakan pihak Pemprov
Sulawesi Selatan.
Sayangnya, penyelenggara Festival Seni
Suku Bajo Internasional 2012 yang dimasukkan sebagai salah satu kegiatan event
Visit Sout Sulawesi 2012 oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan
Provinsi Sulawesi Selatan dibuat hanya meriah dalam pemasangan baliho kegiatan.
Hal itu terlihat, dalam pelaksanaan sangat kurang pesertanya. Bahkan dalam
acara ‘Dialog Budaya’ yang digelar sehubungan dengan Festival Seni Suku Bajo
yang diumbar bertaraf internasional tersebut, hanya terlihat diikuti belasan
orang peserta, dan justru tidak terdapat wakil masing-masing komunitas Suku
Bajo dari berbagai wilayah lain di Indonesia.
Pada hal menurut Prof.Dr.Andi Ima Kusuma
Chandra, sejarawan dari Universitas Negeri Makassar (UNM), banyak hal menarik
yang bisa dipetik dari perjalanan keberadaan dan perkembangan kehidupan Suku
Bajo sebagai etnik laut di Indonesia.
Lebih jauh, tentunya, melalui keberadaan Suku
Bajo bisa dipetik pelajaran model nasionalisme etnik di Indonesia yang memiliki
cukup banyak suku-bangsa dengan beragam tradisi, adat budayanya.
Betapa tidak, Suku Bajo tidak memiliki
wilayah teritorial etnik seperti etnik lainnya di Indonesia. Namun sejak
ratusan tahun lalu etnik Bajo ini dapat menjadikan setiap wilayah pesisir di
Nusantara sebagai tanah air mereka, dapat menyesuaikan diri dengan adat budaya
masyarakat dimana mereka berada. Dan, di seluruh Indonesia mereka dapat
diterima untuk hidup berdampingan dengan etnik lainnya, saling kerjasama
sebagai warga Negara Indonesia dengan tetap memelihara tradisi, adat dan budaya
Suku Bajo.
Dalam perjalanan masa saat ini, masih
banyak tempat di pesisir pantai Indonesia dikenali sebagai pemukiman Suku Bajo.
Namun, tidak sedikit di antara Suku Bajo yang sudah melakukan asimilasi,
berbaur dengan etnik lainnya di Indonesia dan tidak lagi mengembara sebagai
orang laut sebagaimana moyangnya dahulu.
Tahun lalu saya bertemu dengan dua orang
warga di sekitar Perumnas Andonohu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, yang
begitu fasih berbahasa Bugis. Dalam perbincangan lebih lanjut kemudian
diketahui, ternyata mereka adalah Orang Bajo yang orang tuanya sebelumnya
menghuni perkampungan Orang Bajo di muara Teluk Kendari, pesisir ke arah Nambo.
Salah seorang di antara warga tersebut
adalah wanita, isteri dari seorang beretnik Makassar yang berprofesi sopir
sebuah perusahaan di Kota Kendari. Melihat rona kulitnya yang kuning langsat,
tanpa ada pengakuan dari yang bersangkutan, tak ada kesan jika dia perempuan
berasal dari etnik orang laut yang selama ini diidentikkan suku yang memiliki
warna kulit kehitaman.
‘’Orang di lingkungan saya ini semua tahu
saya adalah Orang Bajo. Saya pun selalu memperkenalkan diri sebagai asli Orang
Bajo. Jika bertemu atau kumpul dengan keluarga saya tetap bercakap menggunakan
Bahasa Bajo,’’ katanya.
Sudah tentu, selain tinggal di sejumlah
pemukiman Bajo yang tersebar di banyak tempat di Indonesia, banyak warga Suku
Bajo lainnya yang sudah berkiprah jauh dari laut, hidup damai di tengah wilayah
etnik lainnya di Indonesia.
Fenomena nasionalisme etnik seperti yang
terjadi di kalangan Suku Bajo Indonesia, tampaknya mulai terjadi dengan etnik
lainnya di Indonesia.
Suatu kali jelang Idul Fitri, saya bertemu
satu keluarga turun dari sebuah kapal penumpang di Pelabuhan Makassar. Mereka
datang dari Kalimantan Timur. Dari bahasa percakapannya, saya mengetahui jika
mereka berasal dari etnik Jawa.
Ketika saya tanya tujuan mereka
selanjutnya, di antaranya ada yang mewakili menjawab, ‘’Akan pulang kampung
berlebaran!’’ ‘’Kemana?’’ Tanya saya lebih lanjut. ‘’Ke Bonebone,’’ jawabnya.
Bonebone merupakan salah satu wilayah
penempatan transmigrasi asal Pulau Jawa dan Bali di Kabupaten Luwu, Sulawesi
Selatan. Unit pemukiman transmigrasi ini dibuka sejak awal-awal
pemerintahan Presiden Soeharto. Ternyata, mereka adalah anak-anak dari para
keluarga transmigrasi yang lahir, sekolah dan dibesarkan di salah satu lokasi
pemukiman transmigrasi Bonebone yang kini telah merantau dan membuka usaha di
wilayah Kalimantan Timur. Rombongan keluarga asal Jawa Timur dari Kalimantan
Timur tersebut, pulang lebaran ke kampung halamannya di Bonebone, Kabupaten
Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Duh, sejuknya Indonesia
dengan model nasionalisme etnik seperti itu. Dapat menjadikan dan menyintai
seluruh tempat di Indonesia sebagai tumpah darah, seperti yang sejak masa silam
dilakukan Suku Bajo yang mampu berbaur dan keberadaannya diterima oleh seluruh
etnik di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar